Berhenti Facebookan

Artikel ini dibuat setelah 6 tahun lebih berhenti Facebookan. Berarti bisa dibilang valid kan ya.

Kalau Mark Zuckerberg memiliki cita-cita mulia untuk connecting people lewat social media besutannya yaitu Facebook, saya malah jadi bertanya-tanya:

“Seberapa intens kah interaksi di social media itu harus dilakukan agar mencapai titik interaksi pertemanan yang ideal?”

atau

“Apakah interaksi di Facebook itu merupakan hal yang mandatory untuk menjaga relasi?”

Aturan semacam itu jelas tidak ada. Karena tidak ada parameter mutlaknya.

Hal inilah yang menjadi alasan mengapa saya hengkang dari Facebook. Karena dengan tidak adanya saya di Facebook sekalipun juga tidak akan mempengaruhi interaksi sosial saya dengan teman-teman.

Baca juga:

Less is More

Malah setelah saya menonaktifkan akun saya sejak tahun 2015 hingga sekarang, tidak ada satupun teman yang menanyakannya.

Lha wong di chat whatsapp saja masih bersua. Di kehidupan nyata pun juga masih sering berpapasan. Kalaupun ada teman yang berada di luar kota atau di luar pulau sekalipun, dengan terputusnya interaksi melalui Facebook bukan berarti harus putus pertemanan juga bukan?

Masih banyak cara lain untuk berinteraksi dengan teman-teman. Kapanpun dan di manapun.

Saya menemui kenyataan bahwa fungsionalitas Facebook itu telah melenceng jauh dari cita-cita Mark Zuckerberg semula: “untuk menghubungkan teman-teman”.

Padahal niat saya untuk hadir di Facebook adalah untuk berinteraksi dengan teman-teman. Namun tidak sebegitunya gitu lho. Sampai-sampai saya tergerak secara impulsif untuk scrolling news feed tiap jam hanya untuk melihat postingan orang lain. Dan mereka (Facebook) tentu paham betul cara untuk membuat usernya menjadi adiksi.

Yang saya lihat sekarang Facebook adalah platform yang menjembatani antara publisher iklan dengan para audiencenya. Audience yang dimaksud di sini adalah para pengguna setia Facebook yang masih menggunakan platform ini secara konvensional. Yaitu sebagai sarana hiburan dan berinteraksi.

Sebagaimana layaknya platform social media pada umumnya. Apabila komunitas usernya semakin kuat maka itulah saatnya untuk melakukan monetize.

Bila anda seorang publisher iklan, influencer, seller, atau semacamnya maka boleh jadi Facebook merupakan platform yang sangat membantu. Dari perspektif ekonomi tentunya.

Namun bagi user biasa seperti saya ini, cara berinteraksi dengan orang lain tentu masih bisa disederhanakan lagi.

Tanpa merasakan adiksi untuk scrolling news feed tiap jam lagi. Dan tanpa perlu melihat rentetan iklan yang berujung pada belanja barang-barang yang tidak dibutuhkan.

Pada akhirnya Facebook yang berubah, saya yang berbenah.

Leave a Comment