Bermalam di Homestay di Dieng Memang Menyenangkan

Dulu ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Dataran Tinggi Dieng, saya dibuat terheran-heran sekaligus kagum. Mengapa? Karena warga lokalnya sangatlah ramah dan hangat. Sangat berbeda sekali dengan warga perkotaan.

Keheranan saya pun semakin menjadi manakala saya menginap di salah satu rumah warga yang memang disediakan untuk homestay.

Jadi, sekitar tahun 2011 silam ketika saya pergi ke Dieng, hotel-hotel di sana masih sangat jarang. Paling hanya sekitar 5 hotel saja. Jadi untuk mengatasi keterbatasan akomodasi penginapan maka banyak warga yang menyulap rumahnya menjadi homestay.

Alhasil jadilah homestay yang masih satu atap dengan si pemilik rumah. Biasanya si pemilik rumah akan mengalah dan menempati area dapur. Atau hanya mengambil salah satu kamar saja untuk sekeluarga. Dan kamar-kamar sisa lainnya disediakan untuk para penginap. Ruang tamu yang tadinya merupakan ruang keluarga pun juga menjadi hak para penginap.

Bila malam tiba dan suhu udara sedang dingin-dinginnya maka si pemilik rumah biasanya akan menyalakan tungku perapian untuk menghangatkan badan. Dan biasanya juga si pemilik rumah akan mengajak para penginap untuk bergabung sembari minum kopi panas dan ngobrol ngalor-ngidul. Suatu momen yang ngangenin menurut saya.

Dengan alih fungsi rumah utama menjadi homestay ini menandakan bahwa si empunya rumah sangat terbuka dan memiliki rasa kekeluargaan. Padahal sebelumnya tak saling kenal. Namun seiring berjalannya waktu timbul keakraban. Dan bahkan tak jarang yang kemudian tetap bersilaturahmi.

Saya pun juga begitu. Ketika saya kembali ke Dieng saya merasa senang. Setidaknya ada orang yang bisa saya kunjungi. Yaitu pemilik homestay yang dulu pernah saya singgahi.

Saya senang bila pergi ke suatu tempat tidak hanya berorientasi pada tempatnya saja, namun juga ada interaksi dengan orang-orang yang ada di sana. Seyogyanya kita sebagai makhluk sosial.

Tinggalkan komentar