Pesisir Utara Lasem

Pagi itu aku bersama temanku yang bernama Adit menyusuri Jalanan Pantura yang masih lengang. Hanya ada beberapa truk atau kendaraan lokal saja yang lalu-lalang. Maklum, kepopuleran Jalan Pantura ini semakin meredup seiring dibangunnya ruas Jalan Tol dengan fasilitasnya yang lebih memadai.

Meski Pantura semakin kehilangan pesonanya bagi para pengemudi masa kini namun ia mampu menyajikan ketenangan dan ketentraman batin bagiku. Apalagi ketika memandang hamparan lautannya yang begitu tenang dan dihiasi oleh kapal-kapal nelayan yang ukurannya kecil-kecil.

PKL Malioboro Kini

PKL Malioboro Kini. Diabadikan dengan menggunakan iPhone 5s. Foto-foto ini mengkisahkan awal relokasi para PKL dari emperan Malioboro menuju area yang sudah ditentukan oleh Gubernur DIY. Area tersebut adalah Teras Malioboro.

Warung Makan Bah Kebek Parakan yang Melegenda

  • Bah Kebek Parakan
  • Bah Kebek Parakan
  • Bah Kebek Parakan
  • Bah Kebek Parakan

Mantra itu bersemayam di bilik dapur Bah Kebek Parakan. Meresap ke dalam sepiring bakmi goreng dan cap cay yang kami pesan.

Hok Jap Tjiauw adalah pewaris generasi ke 3 warung makan ini. Kakeknya dulu lebih dikenal dengan nama Bah Kebek. Dalam Bahasa Jawa, kebek artinya penuh. Ini karena Warung Bah Kebek Parakan selalu penuh.

Mie dan kecapnya dibuat sendiri oleh Hok Jap Tjiauw. Tekstur mie nya tebal. Konon yang asli dari Daratan Tiongkok ya seperti ini.

Untuk daftar menu yang tersedia masih sama seperti yang diwariskan Bah Kebek. Ada nasi, bakmi, bihun, cap cay, dan pangsit. Bisa digoreng atau direbus.

Saya sangat merekomendasikan menu bakmi gorengnya. Sepiring seharga tiga puluh ribu pun tetap layak mantap. Bakmi goreng terenak yang pernah saya nikmati.

Silahkan berkunjung. Maaf non halal.