Cinta Kebendaan

Berkat pandemi covid-19, saya akhirnya mendapat banyak pencerahan. Salah satunya adalah mengenai cara pandang saya terhadap barang-barang yang saya miliki.

Tanpa sadar selama ini saya terlalu mencintai barang-barang yang saya miliki. Sehingga terjebak dalam godaan kebendaan. Dan pada akhirnya barang-barang tersebut lah yang menguasai diri saya.

Padahal seharusnya fungsi barang-barang tersebut hanyalah sebagai alat. Tidak lebih.

Bukan malah saya yang diperbudak oleh barang tersebut lalu menghabiskan waktu dan energi hanya untuk merawatnya secara berlebihan.

Lebih kacaunya lagi saya pernah menggunakan barang hanya untuk menunjukkan kepada orang lain seberapa berharganya diri saya.

Namun dengan konsep seperti itu maka itu artinya saya telah menggantungkan diri pada barang-barang yang saya miliki.

Yang tanpa kehadiran barang-barang tersebut maka saya bukan siapa-siapa.

Baca juga:

Less is More

Saya jadi ingat akan nasehat seorang Dosen ITB yang pernah mengatakan demikian:

“rasa memiliki yang berlebihan, apalagi sama kebendaan, adalah awal dari kehilangan”

Ah, ternyata pandemi covid-19 inilah yang dimaksud dengan arti kehilangan tersebut.

Begitu banyak orang yang pada akhirnya terpaksa menjual barang kesayangannya hanya untuk bertahan hidup.

Ternyata, harta yang terpenting di dunia ini adalah memiliki jiwa dan raga yang sehat.

Tinggalkan komentar