cinta kebendaan

Cinta Kebendaan

Perubahan itu selalu ada dari waktu ke waktu. Entah itu perubahan besar maupun perubahan kecil.

Pandemi Covid-19 ini seakan memaksa segala perubahan untuk disegerakan. Padahal sebenarnya masih bisa “nanti-nanti” saja.

Jujur pandemi ini membawa banyak sekali perubahan positif dalam hidup saya. Setidaknya perubahan saya dalam menilai sesuatu. Salah satunya adalah penilaian saya terhadap barang-barang yang saya miliki.

Tanpa saya sadari selama ini saya terlalu mencintai barang-barang yang saya miliki. Sehingga terjebak dalam godaan kebendaan. Dan pada akhirnya barang-barang tersebut lah yang menguasai diri saya.

Padahal seharusnya fungsi barang-barang tersebut hanyalah sebagai alat. Tidak lebih.

Bukan malah saya yang diperbudak oleh barang tersebut dan menghabiskan waktu dan energi hanya untuk merawatnya secara berlebihan.

Banyak orang menggunakan barang untuk memperlihatkan seberapa berharganya diri mereka kepada orang lain.

Namun dengan konsep seperti itu maka lama kelamaan mereka akan menggantungkan diri mereka kepada barang-barang yang mereka miliki.

Yang tanpa kehadiran barang-barang yang mereka miliki maka mereka bukan siapa-siapa.

Baca juga:

Less is More

Diderot Effect

Saya jadi ingat akan nasehat seorang dosen ITB yang pernah mengatakan demikian:

“rasa memiliki yang berlebihan, apalagi sama kebendaan, adalah awal dari kehilangan”

Ah, ternyata pandemi covid-19 inilah yang dimaksud dengan arti kehilangan tersebut.

Begitu banyak orang yang pada akhirnya terpaksa menjual barang kesayangannya hanya untuk bertahan hidup. Meskipun saya tidak sampai sebegitunya.

Ternyata, harta yang terpenting di dunia ini adalah memiliki jiwa dan raga yang sehat. (Adi Kuntjara)

Tinggalkan komentar