diderot effect

Diderot Effect : Belanja yang Bikin Nagih

Awalnya sih hanya membeli sebuah barang yang sepele. Namun ternyata membuat ketagihan belanja.

Disadari atau tidak, ternyata barang yang sepele tersebut adalah “pintu gerbang” untuk belanja barang-barang pelengkap lainnya.

Tanpa kehadiran barang-barang pelengkap lainnya, maka barang yang sepele itu tadi menjadi tidak begitu berarti atau bahkan kurang memuaskan.

Pola seperti itulah yang dinamakan Diderot Effect. Yaitu satu barang baru sering menciptakan spiral konsumsi yang mengantar ke belanja lebih banyak.

Baca juga:

Less is More

Cinta Kebendaan

Kisah Denis Diderot

Mengapa dinamakan Diderot Effect?

Nama Diderot Effect ini diambil dari seorang filsuf Prancis pada abad 17, Denis Diderot.

Diderot hidup sangat miskin, sampai-sampai ia tidak memiliki cukup uang untuk menikahkan putrinya.

Meskipun ia tidak memiliki harta, namun ia dikenal karena perannya sebagai seorang pendiri dan penulis Encyclopedie. Salah satu ensiklopedia paling lengkap pada masa itu.

Ketika itu Katarina Agung, Kaisar Rusia, mendengar masalah keuangan Diderot dan hatinya sangat terusik. Ia sendiri merupakan penggemar buku dan sangat menikmati kehadiran ensiklopedia itu.

Ia lalu membeli perpustakaan pribadi Diderot seharga 1.000 poundsterling atau lebih dari 150.000 dolar saat itu.

Dalam seketika Diderot kaya raya. Dengan kekayaannya tersebut ia tidak hanya mampu membiayai pernikahan putrinya saja. Namun ia juga mampu membeli jubah yang sangat indah.

Saking indahnya jubah itu sampai-sampai tidak cocok bila disandingkan dengan barang-barang yang ia miliki.

Diderot langsung merasakan dorongan untuk meningkatkan kelas harta miliknya.

Ia mengganti karpetnya dengan karpet mewah. Menghias rumahnya dengan patung-patung mahal. Membeli cermin untuk dipasang di atas perapian. Dan mengganti meja makan yang lebih bagus.

Hal ini seperti kartu domino yang jatuh berurutan. Belanja yang satu disusul oleh belanja yang berikutnya.

Mengapa Kita Menginginkan Hal-Hal yang Tidak Dibutuhkan?

Seperti kebanyakan orang pada umumnya, saya juga pernah menjadi korban dari Diderot Effect.

Dulu saya pernah kecanduan otomotif dan akhirnya membeli segala macam perlengkapan yang harganya tidak begitu murah bagi saya. Saya membeli jaket mahal, helm mahal, dan segala part modifikasi untuk motor saya.

Ngomong-ngomong, kita pun dapat menemukan perilaku yang serupa dalam berbagai bidang kehidupan lainnya, misalnya:

  • Kita membeli baju baru dan harus mendapatkan sepatu dan celana yang cocok.
  • Kita membeli action figure kemudian ingin hunting action figure seri lainnya.
  • Kita membeli sepeda baru dan tentunya membutuhkan berbagai perlengkapan lainnya untuk menunjang aktivitas bersepeda.

Hidup memiliki kecendurungan yang alami untuk mendapatkan sesuatu lebih banyak lagi. Kita jarang sekali melakukan downgrade, membuatnya sederhana, menghapus, atau bahkan mengurangi terhadap apa yang sudah kita miliki (kalau tidak kepepet).

Kecenderungan alami kita adalah selalu mengakumulasi, menambah, mengupgrade, dan membangun.

Menguasai Diderot Effect

Diderot Effect ini seakan mengingatkan kita bahwa begitu banyak hal di dunia ini yang sebenarnya ingin masuk ke dalam dunia kita. Kita selalu dijejali oleh beragam konten dan iklan dari mulai bangun pagi hingga istirahat pada malam harinya.

Jadi, yang perlu kita lakukan adalah memahami cara untuk tetap fokus pada hal-hal yang penting dan menghilangkan hal yang tidak penting.

Mengurangi clue. Hampir setiap kebiasaan diawali oleh clue atau isyarat. Oleh karena itu cara termudah untuk melemahkan kekuatan Diderot Effect adalah dengan menghindari clue yang menyebabkannya.

Misalnya adalah dengan membatasi penggunaan social media karena di dalamnya terdapat beragam konten dan iklan yang membuatmu ingin berbelanja.

Membeli barang yang sesuai dengan sistem saat ini. Kita tidak perlu memulai dari awal setiap kali kita membeli sesuatu yang baru.

Saat kita membeli pakaian yang baru maka cari saja barang yang cocok dengan pakaian yang ada saat ini. Saat mengupgrade barang elektronik yang baru maka pastikan upgrade tersebut cocok dengan sistem yang sudah ada saat ini.

Buy one, give one. Sebenarnya konsep ini sama dengan konsep hidup minimalis.

Setiap kita membeli barang baru maka lepaskanlah barang yang lama. Ketika mendapat TV baru maka berikan atau jual yang lama daripada menempatkannya pada ruangan lain di rumah.

Konsep ini berguna untuk mencegah jumlah barang kita bertambah dan akhirnya menjadi hobi mengkoleksi.

Selalu kelola hidup kita dengan hanya memasukkan hal-hal yang membuat kita sukacita dan bahagia.

Satu bulan tanpa belanja barang baru. Jangan biarkan kita untuk membeli barang baru selama satu bulan.

Alih-alih membeli motor baru maka kita dapat menggunakan aplikasi ojek online. Atau bisa juga dengan cara membetulkan sepeda lama yang ada di gudang untuk digunakan kembali.

Semakin kita membatasi diri maka semakin banyak akal kita.

Melepaskan keinginan. Kita tidak akan pernah habis menginginkan sesuatu. Pasti selalu ada saja hal-hal yang ingin dimiliki atau diupgrade.

Ketika memiliki mobil Honda. Kita dapat mengupgradenya ke Mercy. Punya Mercy? Kita dapat mengupgradenya ke Bentley. Punya Bentley? Apakah selanjutnya adalah membeli pesawat?

Sadarilah bahwa keinginan hanyalah sebuah pilihan yang disediakan bagi kita, bukan perintah yang harus kita ikuti.

Referensi : jamesclear