Jalan Panjang Kemarahan

Kelihatannya sangat sepele sih. Hanya marah. Yang bermula dari rasa tidak suka akan suatu hal.

Marah adalah perasaan hati. Apabila perasaan tersebut tidak dikendalikan dengan baik maka dapat berujung pada beragam aksi nyata. Inilah yang berbahaya.

Hasil akhir dari aksi marah ini tidaklah selalu sederhana. Kadang dibutuhkan jalan yang begitu panjang untuk memperbaiki keadaan yang telah rusak (entah moril atau materiil) karena proses marah itu tadi. Oleh karena itu saya menyebut bahwa: Marah Itu Menempuh Jalan Panjang (untuk memperbaiki keadaan).

Saya akan bercerita tentang pengalaman yang dialami oleh teman saya sendiri.

Saat itu teman saya sedang mengendarai mobil. Di belakang mobil teman saya ada mobil lain yang pengemudinya tidak sabaran. Alhasil mobil tersebut menyalip mobil teman saya secara ugal-ugalan. Teman saya pun berusaha untuk mengingatkan pengemudi mobil tersebut.

Namun tanpa diduga, pengemudi mobil tersebut justru mengeluarkan kunci inggris lalu memukul kaca mobil teman saya. Barbar sekali. Sontak hal ini berbuntut panjang hingga proses ke jalur hukum.

Dan kasus ini akhirnya berakhir dengan kesepakatan bahwa pengemudi tersebut wajib membayar ganti rugi. Dan tentunya ia juga memiliki catatan tindak kekerasan di Kepolisian sesuai dengan pasal yang bersangkutan.

Ia harus bolak balik ke Kantor Polisi, merepotkan sanak keluarganya, menunda pekerjaannya, dan masih bolak balik lagi ke bengkel mobil perihal ganti rugi.

Begitu panjang jalan yang harus ia tempuh untuk memperbaiki keadaan karena tidak bisa sabar. Padahal hal itu seharusnya tidak perlu terjadi apabila ia mau sedikit saja lebih sabar.

Effort yang dilakukan antara untuk sabar dan tidak sabar hanya berbeda sedikit bukan? Namun impact nya sangat kontras sekali perbedaannya.

Contoh lain? Banyak. Kita dapat melihat berbagai konflik yang ada di masyarakat kita yang awalnya bermula dari rasa tidak mampu mengendalikan emosi. Banyak sekali kasusnya.

Oleh karena itu tak heran bila banyak orang yang mengistilahkan bahwa “marah itu rugi” dan “hanya orang bodoh yang doyan marah”.

Tinggalkan komentar