aspek sensoris produk

Membuat Kebiasaan Menjadi Menyenangkan

Pandemi Covid19 ini secara tidak langsung telah mengantarkan manusia kepada kebiasaan yang baru. Atau setidaknya memperkuat perilaku lama menjadi sebuah kebiasaan.

Salah satunya adalah mencuci tangan dengan sabun. Menggunakan masker. Dan menjaga jarak.

Saya percaya bahwa untuk menjadikan perilaku menjadi kebiasaan akan sangat mudah apabila perilaku tersebut menyenangkan. Dan memberikan umpan balik (feedback) yang menyenangkan juga.

Saya akan menggunakan contoh mencuci tangan. Apabila kita mencuci tangan menggunakan air saja maka tentunya hal tersebut akan kurang menyenangkan atau biasa saja.

Namun hal tersebut akan berbeda apabila kita mencuci tangan dengan sabun yang wangi dan memiliki busa yang banyak. Sedikit banyak kita akan mengulangi kebiasaan mencuci tangan dengan sabun tersebut karena selain lebih bersih juga dapat memberikan umpan balik (feedback) yang menyenangkan.

Saya mengamati juga hand sanitizer yang berada di tempat umum yang memiliki aroma wangi dan nyaman di tangan juga akan lebih cepat habis daripada hand sanitizer yang aromanya biasa saja apalagi tidak enak.

Itulah yang dinamakan aspek sensoris dalam sebuah produk.

Aspek sensoris dalam produk adalah segala value yang ditambahkan ke dalam sebuah produk supaya dapat ditangkap oleh sensor indera manusia. Yaitu indera penglihatan, pendengaran, perasa, penciuman, dan peraba sehingga produk tersebut memiliki nilai lebih.

Oleh karena itu banyak sekali produk yang diciptakan dengan memperhatikan kaidah aspek sensoris ini. Hal ini bertujuan supaya produk tersebut selalu dibeli dan digunakan.

Kita lebih mungkin mengulang perilaku ketika pengalaman yang kita rasakan itu menyenangkan dan memuaskan. Itu sepenuhnya logis. Kenikmatan tersebut mengajarkan pada otak bahwa “suatu perilaku layak untuk diingat dan diulang”.

Jadi kesimpulannya adalah, apabila kita ingin membuat perilaku menjadi kebiasaan maka buatlah perilaku itu menyenangkan untuk dilakukan.

Referensi : jamesclear