kopi jinghay

Kopi Jinghay

Saya suka kopi. Salah satu kopi favorit saya adalah Kopi Lasem.

Lasem bukanlah jenis kopi, melainkan sebuah Kecamatan kecil yang terletak di pesisir Pantai utara Jawa. Tempat kopi itu diracik.

Bila anda mencari informasi di internet dengan kata kunci “kopi lelet lasem”, maka anda akan menemukan sesuatu yang unik. Yaitu tradisi melukis kopi pada sebatang rokok.

Kegiatan itu dinamakan “nglelet”. Sedangkan ampas kopi lasem lah yang digunakan sebagai tintanya.

Kegiatan nglelet kopi ini dapat dijumpai dengan mudah di Lasem. Salah satunya di warung kopi Jinghay.

Secangkir kopi di warung ini harganya murah, cukup 4000 rupiah saja. Itupun kalau belum naik.

Kopinya hitam pekat. Jenisnya robusta. Disajikan dalam cangkir mungil berikut dengan tatakannya.

Soal rasa? Sangat berkarakter. Meski kadar asamnya sedikit tinggi.

Oleh karena itu kopi lasem ini sangat cocok bila ditemani dengan kudapan ketan yang ditaburi srundeng. Rasanya legit dan gurih. Yang tersedia di warung ini juga.

Setelah kopi tandas disruput maka ia akan menyisakan ampas kopi pada bagian dasarnya yang begitu kental.

Ampas kopi itulah yang kemudian dicampur dengan susu krimer supaya lebih lengket untuk digoreskan pada media rokok.

Meski kopi ini enak, namun perjuangan saya untuk menikmatinya tidak sesederhana itu.

Pertama, saya harus berangkat dari Jogja pagi-pagi betul dengan menumpang bus Ramayana tujuan Semarang. Sampai di Semarang maka saya masih harus naik bus Pantura dengan rute Semarang – Rembang – Lasem.

Sensasinya bagaimana? Anda coba saja sendiri. Setidaknya perjalanan itu ditempuh selama 6 jam.

Belum lagi saya harus memesan penginapan di hari sebelumnya karena tidak mungkin semua itu dilaju.

Tapi usaha memang tidak akan mengkhianati hasil. Pagi-siang-malam akan saya sambangi warung kopi itu.

Seorang teman saya terheran-heran dengan tingkah saya seperti ini. “Kenapa ngga beli kopi lasem di Jogja aja? Kan lebih deket?”

Saran tersebut ada benarnya juga. Bahkan sangat logis. Tapi tidak semua hal bisa di eksekusi dengan logika saja. Apalagi hal yang menyangkut emosional pembeli.

Di luar sana banyak pembeli seperti saya. Di luar sana lebih banyak lagi pemuja secangkir kopi lelet lasem ini.

Mereka dengan senang hati akan memasukkan agenda minum kopi ini ke dalam wishlist tahunan mereka. Datang ke kota kecil ini hanya untuk sekedar menikmati kopi seharga empat ribuan.