Less is More

Less is More. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka akan berbunyi “kurang adalah lebih”.

Hmm unik ya… Padahal kedua kata tersebut masing-masing memiliki arti yang kontradiktif. Bukan begitu?

Namun dalam kehidupan ini, kadang aturan “kurang adalah lebih” memang dapat berlaku. Meskipun tidak dalam semua hal.

Less is More ini memiliki arti bahwa kesederhanaan (simplicity) dan kejelasan (clarity) akan mengarahkan kepada hasil yang maksimal.

Contohnya.

Semakin sedikit barang yang kita miliki maka semakin banyak waktu, tenaga, dan pikiran luang yang kita miliki.

Kenapa bisa begitu?

Karena untuk merawat dan menggunakan sebuah barang tentunya membutuhkan waktu, tenaga, dan pikiran juga. Bagaimana kalau kita memiliki banyak barang?

Contoh lagi.

Semakin sedikit aplikasi yang ada di smartphone kita (alias hanya menggunakan aplikasi yang penting-penting saja) maka kita akan semakin fokus.

Dan…

Semakin sedikit keinginan kita untuk memiliki barang, maka semakin banyak uang yang bisa kita kumpulkan.

Baca juga:

Diderot Effect

Cinta Kebendaan

Sebenarnya konsep “Less is More” ini dipopulerkan oleh Ludwig Mies van der Rohe, seorang tokoh dalam dunia Arsitektur Modern.

Titik fokus dalam konsep “Less is More” yang ia sampaikan terletak pada penggunaan desain yang minimalis karena pada prinsipnya adalah untuk meminimalisir penggunaan elemen non-fungsional.

Intepretasi konsep “Less is More” ini sangat luas dan bisa diaplikasikan pada berbagai elemen kehidupan.

Since too much is not enough, therefore, less is more.

Tinggalkan komentar