Less is More

Less is More. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka akan berbunyi โ€œkurang adalah lebihโ€.

Hmm unik ya. Padahal kedua kata tersebut masing-masing memiliki arti yang kontradiktif. Bukan begitu?

Namun dalam kehidupan ini, kadang aturan “kurang adalah lebih” memang dapat berlaku. Meskipun tidak dalam semua hal.

Less is More ini memiliki arti bahwa kesederhanaan (simplicity) dan kejelasan (clarity) akan mengarahkan kepada hasil yang maksimal.

Contohnya:

Semakin sedikit barang yang kita miliki maka semakin banyak waktu, tenaga, dan pikiran luang yang kita miliki.

Kenapa bisa begitu?

Karena untuk merawat dan menggunakan sebuah barang tentunya membutuhkan waktu, tenaga, dan pikiran juga. Bagaimana kalau kita memiliki banyak barang?

Contoh lagi:

Semakin sedikit aplikasi yang ada di smartphone kita (alias hanya menggunakan aplikasi yang penting-penting saja) maka kita akan semakin fokus.

Dan:

Semakin sedikit keinginan kita untuk memiliki barang, maka semakin banyak uang yang bisa kita kumpulkan.

Baca juga:

Cinta Kebendaan

atau:

Senju Waterfall dan Steve Jobs

Sebenarnya konsep “Less is More” ini dipopulerkan oleh Ludwig Mies van der Rohe, seorang tokoh dalam dunia Arsitektur Modern.

Titik fokus dalam konsep “Less is More” yang ia sampaikan terletak pada penggunaan desain yang minimalis karena pada prinsipnya adalah untuk meminimalisir penggunaan elemen non-fungsional.

Intepretasi konsep “Less is More” ini sangat luas dan bisa diaplikasikan pada berbagai elemen kehidupan.

Since too much is not enough, therefore, less is more.

8 thoughts on “Less is More”

  1. Halo, salam kenal Kak

    Saya datang dari keyword “less is more” setelah ‘berpetualang’ menuruti ingin dan ingin selama setahun terakhir namun sedang kembali ke hal-hal sederhana namun fungsional. Ternyata kebendaan memang sebegitu pengaruhnya ke rasa batin, dan juga fokus. Unik, hehe. Konsep minimalis sudah terdengar lama, namun pemahaman dan perasaan setelah mengalami rasanya sangat berbeda ๐Ÿ˜€

    Ngomong-omong, saya suka blog ini. Minimalis dan tentu saja saya menikmati postingan-postingannya. Senang ketika menemukan sebuah blog yang aktif melalui pencarian Google, seperti awal dulu saat ngeblog ramai. Hehe.

    Apakah blog ini tidak disediakan kolom untuk subscribe email? Namun berkunjung tanpa pemberitahuan email juga tidak masalah sih ๐Ÿ˜€

    Reply
    • Haloo salam kenal juga kak Marfa ๐Ÿ˜€ , terima kasih sudah mampir di blog sederhana ini yaaโ€ฆ

      Jujur saya senang kalau ada yang menyukai blog ini. Dan saya berharap bisa membawa kebaikan bagi para pembacanya. Termasuk juga mengenai tema-tema yang berkaitan dengan gaya hidup minimalis.

      Seperti yang sudah kak Marfa sebutkan tadi bahwa kebendaan pengaruhnya memang banyak yaa.

      Oh ya, untuk kolom subscribe email memang belum disediakan karena masih belajar tata letak blognya, hehe.

      Sekali lagi terima kasih kak. ๐Ÿ™‚

      Reply
  2. Masyaa Allah. Artikelnya singkat, padat, ringan namun rinci. Enak banget dibacanya. Yang ditulis esensi-esensi juga. Less banget, tapi more. Salam kenal ya mas,..

    Reply

Leave a Comment