Makan Siang Dengan View Persawahan

Long Weekend baru saja tiba. Sebagai kaum yang liburannya masih bergantung pada tanggal merah yang letaknya mepet-mepet di akhir pekan tentu kesempatan ini sangatlah langka dan berharga.

Tapi makin ke sini, tempat wisata yang ada pun semakin ramai. Jangankan tempat wisatanya, lha wong jalan rayanya saja juga mendadak padat kendaraan. Semua orang seakan turun ke jalan, berduyun-duyun merayakan Long Weekend.

Ini nih yang membuat saya jadi pikir-pikir untuk pergi ke tempat wisata saat Long Weekend. Alih-alih hendak mengobati penat namun yang ada malah tambah penat karena ramai wisatawan.

Beragam tujuan wisata sudah di-list, namun pada akhirnya nihil. Alasannya karena “lelah” (baru dibayangin saja sudah lelah duluan). Lelah entah karena tempatnya jauh atau entah mungkin tempatnya akan ramai pengunjung.

Karena saya tinggal di Kota Jogja maka short escape saya biasanya ke Kabupaten yang ada di Provinsi DIY juga. Entah Bantul, Sleman, Gunung Kidul, atau Kulon Progo. Dan setelah saya pilih-pilih akhirnya pilihan jatuh ke Kulon Progo.

Tapi ke Kulon Progo mau ngapain? Kan sudah sering juga?

“Gimana kalau makan siang aja sambil ngeliat view sawah, kayaknya asik”, guman saya. Maka segera saya ajak sang istri tercinta untuk turut ikut dalam agenda makan siang ini.

Kami berangkat naik motor menuju ke arah Nanggulan. Tapi kami tidak ke Nanggulan melainkan belok kanan ke arah Samigaluh. Padahal kalau di Nanggulan maka keinginan saya untuk makan siang sambil ngeliat view sawah jelas akan sukses terlaksana. Soalnya di sana kan banyak warung makan kekinian.

Ah, ke Samigaluh saja. Meskipun di sana gak ada (atau belum) warung makan kekinian dengan view sawah. Tapi paling tidak, mari kita mencobanya.

Di tengah perjalanan sang Istri meminta untuk menepi sebentar untuk minum obat. Sebelumnya Istri sempat di opname di Rumah Sakit karena sakit demam berdarah. Sehingga setelah sembuh pun ia masih dibekali obat oleh Dokternya.

Celingak-celinguk gak nemu satupun tempat yang enak buat menepi. Rumah-rumah di daerah Samigaluh memang masih jarang. Selain itu kalau mau menepi di depan rumah orang juga sungkan. Akhirnya kami masuk ke dalam desa sedikit lalu menemukan sebuah pos ronda kecil.

Sungai di dekat pos ronda
Selokan di dekat pos ronda

Pos ronda ini sangat unik. Pemandangan di depannya berupa saluran irigasi yang lebar lalu ada hamparan sawah yang masih asri. Di dekatnya juga ada sungai yang airnya berwarna kehijauan. Warna hijau tersebut berasal dari larutan batu kapur.

Sebenarnya pos ronda ini sudah memiliki komposisi pemandangan alam yang sangat pas untuk dinikmati. Tapi kami nggak mungkin makan siang di tempat ini. Nanti seperti apa pikiran warga setempat yang kebetulan lewat lalu melihat kami makan dengan lahapnya di pos ronda siang-siang bolong begini. Blass orang kota yang gak umum!

Karena perut sudah menjerit minta jatah makan akhirnya kami segera melanjutkan perjalanan untuk menemukan sawah yang dikehendaki.

Kami pun sampai di sebuah Embung buatan yang bernama Embung Canggal. Lokasinya sangat berdekatan dengan Curug Samigaluh.

Embung Canggal

Di sini hanya ada dua gazebo. Satu gazebo sudah dipakai oleh orang yang sedang pacaran, lalu kami mlipir ke gazebo satunya dan ternyata zonk. Banyak semutnya. Saking banyaknya sampai kami merinding. Yasudah, pindah saja ke tepian Embung.

Dari spot yang kami pilih ini ternyata viewnya malah paling bagus. Di bawah kami sudah tersaji hamparan sawah yang padinya mulai menguning. Susunan sawahnya pun berundak-undak, seperti Tegalalang Rice Terrace yang ada di Ubud.

Ah, tapi kan hampir semua sawah yang ada di Kulon Progo memang begini. Berundak-undak.

View sawah

Oke, kami cukupkan pusing-pusing memikirkan soal sawah berundak. Keburu lapar. Kami lalu mengeluarkan bekal yang kami bawa dari Kota Jogja. Bekal tersebut antara lain: ayam goreng Olive Chicken berikut nasinya, buah pisang, camilan, dan air mineral.

Selamat makan

Kriuk kriuk kriuk. Makan ayam goreng dengan lahapnya. Sumpeh, ini Olive Chicken paling enak yang pernah saya makan. Istri saya juga bilang begitu. Selain enaknya awet, pemandangan yang disajikan juga turut menambah lezatnya ayam goreng ini. Nggak salah emang kalau Olive Chicken sering dijadikan bekal untuk piknik.

Kalau jenuh dengan rutinitas dan ingin wisata tapi malas keramaian, mungkin ide saya seperti ini bisa ditiru. Cari tempat yang nggak mainstream (asal nggak di pos ronda tadi hehehe) lalu tinggal gelar tikar. Dan jangan lupa bawa bekalnya ya.

Tinggalkan komentar