Masih Ada Hari Esok

Bagi sebagian orang termasuk saya, musim peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau adalah saat yang menyenangkan dan ngangenin. Musim peralihan ini berada di bulan Juni hingga Agustus.

Pada saat itulah perubahan suhu sangat mencolok. Siang yang terik dan malam yang begitu dingin. Sedangkan angin bertiup sejuk.

Orang Jawa menyebutnya dengan musim Bedinding.

Biasanya saya menggunakan momen tersebut untuk liburan pada setiap tahunnya. Dan dataran tinggi pegunungan merupakan pilihan yang cocok.

Dari berbagai dataran tinggi yang ada, Dieng selalu laris pengunjung pada bulan-bulan tersebut.

Fenomena salju es dan suhunya yang mencapai minus mampu menyihir orang-orang untuk berbondong-bondong ke sana.

Apalagi ada upacara sakral yang berupa pemotongan rambut gimbal yang dihelat pada bulan Agustus juga.

Jujur saya belum pernah ke sana (Dieng) pada musim Bedinding. Dan tahun ini saya berencana ke sana. Sekalian merayakan ulang tahun pernikahan bersama istri.

Namun apa boleh buat, begitu mendekati hari H, istri mendadak sakit.

Segala angan-angan untuk liburan dan menikmati hawa dingin Dieng akhirnya pupus sudah untuk tahun ini.

Dalam kehidupan kita kadang menjumpai bahwa realita tak sesuai rencana. Dan itu lumrah.

Tak mengapa. Masih ada hari esok. (Adi Kuntjara)

Tinggalkan komentar