kopi mukidi

Mencicipi Kopi Cita Rasa Tembakau di Kaki Gunung Sumbing

“Ngadem di Dataran Tinggi Temanggung yuk!”, ajak saya kepada Istri, adik, dan adik ipar saya ketika kami sedang dalam perjalanan ke Negeri di atas awan, Dieng.

Kata orang-orang sih, kopi asal Temanggung ini sudah tersohor kemana-mana. Bahkan menyandang predikat kopi terbaik di Dunia.

Apalagi kopi Arabikanya pernah juara satu Dunia di Swedia. Dua kali berturut-turut. Serta juara Nasional tiga kali berturut-turut. Hebat bukan?

Dengan terkenalnya komoditas kopi ini lantas membuat kopi Temanggung menjelma menjadi “Soko Guru”, alias penopang perekonomian penduduk Temanggung.

Salah satu petani kopi yang ada di Temanggung adalah Pak Mukidi. Beliau ini telah membudidayakan kopi pada lahannya yang terletak di Wonotirto sejak tahun 2001.

Tak hanya menjadi petani saja, beliau bahkan menyulap rumah sederhana miliknya menjadi sebuah kedai kopi mungil nan apik.

Kedai kopi ini berada di pedesaan. Di kaki Gunung Sumbing. Dan di tengah-tengah ladang. Petunjuk arah untuk sampai ke lokasi kedai kopinya memang tidak ada, namun justru itulah sensasi petualangannya. Serasa mencari hidden gem.

Sama halnya seperti tanaman kopi yang makin tumbuh subur bila berada di dataran tinggi, ngopi di tempat seperti ini pun juga makin nikmat.

Kemarin saya pesan secangkir kopi V60 Arabika wine. Dan minta dibuatkan bapaknya semangkuk indomie rebus telor plus cabe hijau.

Sedangkan Istri memesan Vietnam Drip…

Soal rasa, kopi khas Temanggung ini unik. Seperti ada cita rasa tembakaunya. Hal ini karena biji kopinya ditanam berdekatan dengan tanaman tembakau. Maka wajar bila rasa tembakaunya terserap ke dalam biji-biji kopi. Karena karakteristik biji kopi mampu menyerap aroma.

Hal ini membuat kopi Temanggung menjadi lebih wangi.

Menyenangkan sekali bisa mampir ke kedai ini lalu menikmati secangkir kopi Temanggung beserta Indomie rebus telor cabe hijaunya.

Must have menu lah pokoknya kalau dateng ke sini lagi.

Tinggalkan komentar