Menjadi Serba Instan

Serba instan itu enak kok. Apalagi di zaman sekarang ini di mana segalanya bisa didapatkan dengan mudah berkat kemajuan teknologi.

Merasa iri karena teman baru saja membeli smartphone?

Gampang. Pesan saja via marketplace online. Beberapa jam kemudian pesanan akan tiba. Praktis bukan?

Ingin mengirim pesan ke seseorang?

Tak perlu repot-repot lagi menulis surat seperti zaman dulu. Kirim lewat chat saja maka dalam hitungan detik pesan sudah diterima.

Ingin makan sesuatu?

Tak perlu repot-repot masak sendiri. Belum lagi kalau ternyata yang dimasak tidak enak. Pesan saja lewat aplikasi ojek online.

Ingin ngedate?

Gunakan saja aplikasi dating online atau kenalan lewat sosial media. Tinggal swipe kanan kiri untuk mencari mana yang dirasa cocok. Tanpa perlu ketemuan secara langsung.

Segala kemudahan-kemudahan seperti itu tentu sangat enak. Kita seakan hidup di era keemasan. Nenek moyang kita dulu tentu tidak merasakan kehidupan sepraktis ini.

Dulu untuk bisa kenalan dengan lawan jenis saja jantung seakan mau copot. Belum lagi ada rasa dagdigdug saat menunggu balasan lewat surat.

Namun menjadi serba instan itu ternyata juga memiliki celah kosong. Dan celah kosong itu kelak akan diisi oleh “rasa tidak sabaran”.

Baca juga: Jangan Menagih Hutang

Selain rasa tidak sabaran masih ada hal lainnya yaitu: standar yang akan meningkat. Hingga kemungkinan menganggap remeh karena “sudah merasa”.

Ketika pesanan tidak kunjung tiba maka jengkel. “Biasanya tak selama ini kok”. “Sudah bayar kok”. Dan berbagai pembenaran lainnya karena sudah merasa.

Ketika balasan pesan terlalu lama maka kesal karena merasa sudah mengirim chat dengan cepat. “Seharusnya dibalas dengan cepat juga dong”.

Ketika kenalan lewat sosial media dan berlanjut namun seiring berjalannya waktu merasa tidak cocok maka entengnya menyudahi semuanya dan seolah seperti tak terjadi apa-apa. “Ah di sosmed juga gampang nyarinya kok”.

Dan seenaknya sendiri memaksa dokter, perawat, atau staf lainnya karena: “Orang saya sudah bayar kok”.

Proses yang instan tentu akan mengharapkan hasil yang instan dengan standar yang semakin tinggi pula. Seakan segala proses yang ada dalam kehidupan ini menjadi barang yang remeh.

Padahal tidak sesederhana itu.

Tinggalkan komentar