Menumbuhkan Empati Melalui Tanaman

Menumbuhkan Empati Melalui Tanaman

Belakangan ini saya sedang keranjingan kegiatan bercocok tanam dengan sistem yang tergolong sederhana yaitu hidroponik.

Maklum… ikut-ikutan tren ceritanya.

Meski sistem hidroponik ini tergolong sederhana, namun pada prakteknya ternyata susah.

Padahal berbagai macam tutorial sudah bertebaran di internet. Bahkan ada video tutorial proses cara menanam dari benih hingga panennya.

Saya memiliki dua jenis bibit sayuran yaitu kangkung dan sawi. Kedua jenis tanaman ini mudah ditemukan di pasar maupun di rumah makan. Harganya pun tergolong murah dan bukan termasuk sayuran langka.

Artinya bila saya mencoba menanamnya sendiri tentunya bukan orientasi profit yang saya cari.

Sayangnya satu paket bibit kangkung telah terlebih dahulu gagal panen sebelum saya bisa menikmati hasilnya. Terdengar sepele sih, namun entah mengapa saya merasa kehilangan dan “eman”.

Selanjutnya saya memperhatikan tanaman dengan lebih baik lagi agar dapat tumbuh dengan maksimal.

Ayah mertua saya mengamati kegiatan hidroponik yang saya tekuni ini dan beliau berpendapat kalau itu ribet. “Lebih praktis beli sayuran di pasar, harganya kan juga murah”, kata ayah kepada saya.

“Kalau semua orang berpikiran seperti itu, lalu siapa yang jadi petaninya?”, guman saya.

Ya, meskipun membeli sayuran di pasar merupakan cara yang praktis menurutnya, namun saya memiliki beragam cara yang lebih praktis lagi.

Sebagai kaum milenial yang tumbuh bersama aplikasi digital, saya bisa saja memesan sayuran di sebuah marketplace online atau bahkan memesan masakan yang sudah siap sekaligus dengan mudah. Bukan begitu?

Namun itu bukanlah hal yang saya inginkan.

Sebagai pribadi yang tinggal di perkotaan, saya mengalami beragam kemudahan dan kepraktisan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Prinsipnya selama saya memiliki uang maka segalanya akan beres, termasuk juga dengan urusan makan. 

Hal ini membuat saya tidak memahami setiap proses yang berlangsung pada setiap sayuran yang saya santap.

Bahkan saya cenderung menyepelekan atau menghambur-hamburkan sayuran. “Ah harganya cuman sepuluh ribu kok…”, dan berbagai pemakluman lainnya.

Saya pernah memesan sepiring nasi dan tumis sawi di sebuah rumah makan. Hanya sepiring nasi dan tumis sawi. Namun yang membuat saya kesal adalah proses penyajiannya yang begitu lama. Hampir setengah jam lamanya. 

“Apa susahnya sih memasak sepiring tumis sawi?”, keluh saya waktu itu.

Namun saya baru tahu rasa begitu menanamnya sendiri dan itu membutuhkan waktu setidaknya 40 hari supaya bisa panen. Itupun kalau tidak rusak karena diganggu ulat dan kawanannya.

Ternyata seperti ini rasanya.

Begitu panen raya dan beberapa ikat sawi berhasil dipanen. Segera sang istri menyulapnya menjadi masakan yang bisa menggoncang batin.

Menyantapnya pun membuat saya terharu. Betapa besar kuasa Tuhan dalam menyediakan segala tanaman di Bumi untuk dimakan. 

Dari yang tadinya hanya berbentuk biji kecil akhirnya bisa menjadi seikat tanaman yang mengenyangkan dan memiliki kandungan gizi yang baik bagi makhluk hidup ciptaan-Nya.

Ternyata selama ini saya menyepelekan proses kehidupan yang luar biasa.

Semoga seterusnya saya dapat lebih menghargai makanan.