Nyaris Saja di Gunung Sumbing

Mendaki Gunung itu bukan persoalan sepele. Apalagi bagi jiwa-jiwa yang belum memiliki rasa disiplin seperti saya ini. Mendaki Gunung bukan juga soal tamasya, karena nampaknya lebih tepat kalau dibilang soal hidup atau mati.

Lantas mengapa orang-orang masih saja mendaki Gunung apabila itu merupakan soal hidup atau mati?

Sesungguhnya kehidupan ini adalah perkara hidup dan mati. Dan mendaki Gunung adalah bagian dari kehidupan. Selama kita berusaha dengan baik tentunya segala hal buruk dapat diminimalisir.

Ini merupakan kisah kami berdua ketika mendaki Gunung Sumbing saat libur lebaran beberapa tahun yang lalu. Yang dimaksud dengan kami adalah saya dan teman saya yang bernama Dani.

Sebelumnya kami sama sekali belum pernah memiliki pengalaman mendaki Gunung di atas ketinggian 3000 mdpl. Mungkin hanya Gunung Andong saja.

Namun Gunung Sumbing yang kami daki ini sangat-sangat berbeda sekali dengan Gunung Andong. Dan kacaunya, kami menggunakan patokan Gunung Andong.

Alhasil perbekalan yang kami bawa sangat minim sekali. Hanya air mineral kemasan1500ml sebanyak 2 botol, 2 cup mie instant, dan selebihnya hanya camilan dan roti saja.

Bekal seperti itu lebih pantas untuk dibawa untuk mengelilingi sebuah taman kota atau untuk pergi ke pantai. Namun kami malah membawanya ke Gunung Andong. Gunung yang notabene termasuk ke dalam salah satu Gunung tersulit di Pulau Jawa. Dan tertinggi di urutan ketiga di Pulau Jawa.

Briefing di Basecamp

Kami memulai pendakian itu pada pukul 3 sore. Perjalanan dari Basecamp hingga menuju ke Pos 3 terbilang cukup lancar. Meski peralatan mendaki saya hanya ala kadarnya.

Sesampainya di Pos 3 kami lalu menggelar tenda untuk bermalam. Karena saya tidak menggunakan jaket gunung maka saya mulai merasa kedinginan. Sepertinya kalau saya tidak segera masuk ke dalam tenda dan memakai sleeping bag maka bisa saja saya akan terkena hipotermia.

Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan menuju ke Pos 4. Bekal air yang kami miliki hanya 2 liter saja. Dan di dalam perjalanan kami sempat membaginya ke pendaki lain yang sempat kekurangan air.

Pos 4 merupakan titik pendakian akhir kami. Ketinggiannya adalah 3005 mdpl. Kami tidak berani summit ke Puncak Gunung Sumbing(Puncak Sejati) karena stamina dan air minum sudah terkuras banyak.

Dalam perjalanan turun, kami benar-benar kekurangan tenaga dan air. Kami bahkan hanya berbagi air minum barang satu atau dua tegukan saja. Sampai-sampai saya sudah merasa sangat lelah sekali dan hampir menyerah karena badan sangat lemas.

Di saat itu juga saya merasa Tuhan telah mengirim para malaikatnya dalam bentuk para penjaga basecamp. Saat itu mereka sedang naik Gunung untuk mengecek sumber mata air. Beruntung sekali mereka membawa persediaan air yang melimpah dan membaginya kepada kami.

Botol minum yang tadinya kosong lalu terisi penuh. Dahaga yang sangat akhirnya terpulihkan. Setelah pertolongan itu maka perjalanan kembali ke basecamp berjalan sangat lancar. Tanpa kekurangan apapun.

Dari pendakian ini saya banyak belajar. Bahwa alam terlalu digdaya. Bahwa saling tolong menolong membuat kita kuat. Dan pelajaran yang paling berharga adalah: bahwa kedisiplinan itu sangatlah penting.

Tinggalkan komentar