Pengalaman Survey KPR Subsidi

Pengalaman Survey KPR Subsidi

Siapa sih yang ngga pengen punya rumah sendiri setelah menikah?

Semua pengen dong. Rumah kan merupakan salah satu kebutuhan primer manusia setelah sandang dan pangan.

Dulu awal-awal menikah kami sudah sibuk kesana kemari untuk mencari KPR rumah. Namun hasilnya nihil. Alasannya karena DP dan cicilannya tidak sesuai budget kami.

Hingga akhirnya mata kami tertuju pada KPR subsidi pemerintah.

Waktu itu KPR subsidi terlihat sangat menggiurkan sekali di mata kami. Lha gimana tidak? Hanya dengan membayar DP sebesar 7 jutaan (itupun dapat diangsur 3 kali) kita sudah dapat memiliki hunian. Cicilannya pun hanya sekitar 800ribuan perbulan.

Kami lalu ketemuan sama marketingnya dan sempat survey juga ke lokasi perumahannya. Dan setelah dateng ke lokasinya, kami kemudian mundur. Ngga jadi KPR subsidi.

Hingga tulisan ini ditulis pun, Alhamdulillah saya dan istri masih hidup ngontrak secara nomaden.

Lho kenapa ngga jadi KPR subsidi?

Alasan utamanya karena faktor lokasi.

Karena harga rumahnya murah maka developer perlu mencari tanah yang murah juga dong. Dan harga tanah yang murah itu biasanya ada di pedesaan.

Benar saja, setelah saya hitung jaraknya ada sekitar 40km dari Kota. Jauh sekali. Apalagi terletak di pedesaan yang mana akses jalannya masih sepi dan tidak lebar.

Saya jadi ga tega sama Istri kalau ia harus melewati rute itu setiap harinya. Belum lagi kalau malam hari dan turun hujan.

Alasan kedua karena faktor build quality.

Waktu saya sama istri survey ke lokasi, kami juga sempat survey bangunan rumahnya juga. Saya ngga mau panjang lebar membahas tentang ini. Saya hanya ingin bilang, “ada harga ada rupa”.

Bila anda ingin KPR subsidi, pastikan melakukan quality control rumah anda secara teliti ya.

Alasan ketiga karena faktor sarana dan prasarana.

Biasanya developer perumahan perlu menunggu bertambahnya penghuni baru untuk melakukan instalasi supaya biayanya lebih murah. Katakanlah instalasi PDAM misalnya.

Kalau penghuninya masih sedikit maka terpaksa harus membuat sumur bor atau membeli air jrigen di kampung terdekat.

Belum lagi kalau ternyata rumah tersebut tidak memiliki dapur maka kita perlu putar otak untuk menyediakannya.

Terakhir, biasanya rumah subsidi tidak memiliki canopy dan pagar rumah. Sehingga kita harus keluar uang lagi supaya kendaraan kita aman. Atau terpaksanya harus memasukkan motor ke dalam ruang tamu ketika malam hari.

Itu saja sih sekelumit pengalaman dan pertimbangan kami mengenai KPR subsidi. Saya ngga mengajak anda supaya jangan mengambil KPR subsidi lho ya.

Tapi alangkah baiknya bila mempertimbangkannya dengan matang agar keputusan yang kita ambil merupakan keputusan yang tepat.

Tinggalkan komentar