Review Headlamp Nitecore Nu25

Review Headlamp Nitecore NU25

Saya mau share review headlamp bagus nih. Headlamp ini lumayan terkenal di kalangan pendaki Ultralight dan pelari Trail Running di Luar Negeri sana. Alasannya sederhana karena headlamp ini ringan!

Headlamp ini berasal dari brand Nitecore dengan seri NU25. Coba search aja review headlamp ini di Blog dan Youtube. Pasti banyak sekali review positifnya. Nama besar Nitecore sebagai produsen senter memang ga perlu diragukan lagi.

Namun produk dari brand besar tentu akan berbanding lurus dengan harganya juga.

Harga senter ini lumayan juga untuk ukuran kantong saya sendiri. Kemarin saya menebusnya dengan harga Rp 400.000 rupiah. Padahal selama ini saya hanya menggunakan senter seharga 40ribuan saja.

Selisih harganya jauh.

“Namun apakah harga segitu berbanding lurus dengan kinerja dan kualitasnya juga?”

“Well, I can honestly say, yes!”

Lalu apa sajakah fitur yang bisa ditawarkan si mungil Nitecore NU25 ini? Oke mari langsung saja kita bahas.

Seperti yang sudah saya sebutkan tadi bahwa headlamp ini sangat ringan. Bobot headlampnya saja bahkan hanya 28 gram. Iya 28 gram. Saking ringannya bahkan sampai ngga kerasa kalau headlamp ini sedang bertengger di atas kepala.

Lucunya lagi, strap headlampnya bahkan lebih berat daripada headlampnya. Oleh karena itu banyak user yang mengakalinya dengan mengganti strapnya. Biasanya mereka menggantinya dengan tali paracord. Sehingga bobot totalnya hanya sekitar 32 gram saja.

Yang membuat Nitecore NU25 ini begitu ringan karena baterainya sudah built-in dengan tipe lithium berkapasitas 610 mAh. Pihak Nitecore sendiri bahkan mengklaim bahwa baterai lithium ini setara dengan 3 buah baterai AAA namun dengan bentuk yang sangat kecil.

Soal jenis baterai yang digunakan pada headlamp itu selera masing-masing yah. Tapi kalau saya sendiri sih prefer baterai built-in karena alasan praktisnya. Tinggal colokin aja ke port usb maka beres. Ga perlu beli baterai secara terpisah lagi. Bisa di charge dengan powerbank pula.

Headlamp ini seingat saya memiliki 9 mode pencahayaan. Dari mode Low (1 lumens), Mid (38 lumens), High (190 lumens), sampai yang paling terang yaitu mode Turbo (360 lumens). Mode Turbo ini terang sekali loh. Namun ga bisa dipantengin lama karena panas. Maksimal per 30 detik saja lalu ia akan mati dengan sendirinya untuk melindungi hardwarenya.

Selain beberapa mode di atas, masih ada mode lainnya lagi seperti auxiliary white light, auxiliary red light, SOS, beacon, dan red caution light.

Saya sendiri malah belum familiar dengan semua mode tersebut. Paling hanya bermain di low, mid, dan high saja karena memang kebutuhannya baru itu saja. Namun sepertinya seru bisa explore nyobain mode yang lainnya, heheh.

Untuk jenis LED yang digunakan adalah CREE XP-G2. Output cahayanya lebih condong ke flood sih. Namun meski begitu outputnya tergolong terang dan hemat daya. Buat saya sendiri mode Mid (38 lumens) udah cukup terang.

Sepertinya itu saja review dari saya, nanti kalau ada tambahan akan saya update lagi. Terima kasih.

Tinggalkan komentar