Review Pemakaian Water Bladder

Saya pernah dilema tentang “penting ga sih water bladder untuk aktivitas outdoor?”. Misal ketika digunakan untuk trail running atau hiking gitu?

Mengingat harga water bladder juga tidak murah. Ada sih yang murah, tapi tidak menjamin apakah akan awet.

Khawatirnya nanti kalau sudah beli, eh ternyata malah mubazir. Kan sayang.

Namun setelah pertimbangan yang cukup matang akhirnya saya membeli Water Bladder juga. Merknya Aonijie seri SD16 dengan kapasitas 2L. Harga belinya Rp 175.000.

Dan berikut ini adalah kesimpulan saya selama pemakaian:

Muat banyak air. Yup, siapa sih yang nggak seneng kalau memiliki persediaan air yang lumayan banyak untuk dirinya sendiri selama perjalanan. Water bladder yang ditempatkan di dalam tas punggung membuat saya serasa seperti onta yang memiliki banyak stok air di punuknya, haha.

Stok 2 liter air minum itu sangat banyak lho. Dan itu akan sangat membantu. Bahkan jumlah air sebanyak itu cukup untuk naik-turun Gunung setinggi 3000 mdpl.

Praktis. Water bladder akan menjadi kombo super apabila ia dikombinasikan dengan tas running yang bobotnya cenderung ringan dan memiliki kompratemen khusus untuk water bladder. Serius.

Saya bisa bergerak selincah mungkin dengan air yang tetap stabil di punggung. Dan ketika haus pun saya tinggal meraih selang water bladdernya saja. Tas running biasanya juga memiliki braket untuk merapikan selang water bladder sehingga saya tidak perlu khawatir selangnya akan menjuntai kemana-mana selama bergerak.

Kalau dibandingkan dengan botol minum konvensional jelas sangat jauh perbandingan praktisnya. Kalau menggunakan botol minum, saya harus meraih botol minumnya terlebih dahulu lalu membuka botolnya. Hal yang repot dilakukan apabila saya sedang berada di situasi yang sulit, misal ketika sedang merayap di tebing.

Tidak Praktis. Water bladder juga bisa menjadi tidak praktis dalam situasi tertentu, misalnya saat mengikuti event running. Mengapa?

Karena biasanya event running memiliki beberapa water station. Artinya saya dapat mengkalkulasi jarak water station dengan air yang dibutuhkan oleh tubuh saya. Jadi saya tidak perlu membawa air banyak-banyak.

Selain itu saya juga dikejar waktu. Proses pengisian water bladder tentu akan memakan banyak waktu. Saya harus mencopot tasnya lalu mengeluarkan water bladder dari dalam tas untuk diisi ulang.

Repotnya lagi ketika akan dimasukkan kembali ke dalam tas maka saya akan mengalami kesulitan apabila ada berbagai macam barang di dalam tas. Sehingga saya harus mengeluarkan barang-barang di dalam tas itu terlebih dahulu.

Saya sih merekomendasikan penggunaan soft flask untuk event running. Selain pengisian ulangnya sangat mudah, kompartemen tas running dapat full terisi oleh barang-barang keperluan lari. Tanpa harus membagi ruangnya dengan water bladder.

Sulit untuk mengecek volume air. Karena letak water bladder yang berada di dalam tas punggung maka sulit bagi saya untuk mengecek air yang tersisa untuk mengkalkulasi jarak perjalanan. Dan pada akhirnya saya hanya bisa bermain feeling.

Bisa dicek sih bisa. Yaitu dengan mencopot tas terlebih dahulu atau dengan memencetnya. Tapi tetap saja itu bukan hal yang praktis.

Subtitusi water filter. Tahu water filter kan? Itu lho alat yang digunakan untuk menfilter air mentah menjadi air siap minum. Dan biasanya bentuknya praktis dan bisa dibawa kemana-mana.

Bule-bule sih banyak yang merekomendasikan water filter untuk aktivitas outdoor daripada membawa stok air yang melimpah. Ingat, semakin banyak stok air yang saya bawa tentu berat dan dimensi bawaan juga semakin meningkat. Oleh karena itu water filter hadir sebagai solusi atas permasalahan tersebut.

Nggak salah sih. Tapi menurut saya hal itu sangat tergantung pada kondisi lingkungan dan keadaan geografis. Misal, bule-bule yang lebih memilih water filter daripada membawa stok air yang banyak ini hikingnya di Eropa dan Amerika, katakanlah di rute Tour du Mont Blanc. Di sana airnya memang melimpah ruah dan juga bersih. Air dari alam pegunungan gitu. Kebanyakan di Eropa atau Amerika sana aliran airnya memang bersih dan alami.

Dibandingkan dengan alam Indonesia tercinta ini ya jelas beda jauh. Meskipun di sini ada sumber air yang bersih tapi ya tidak banyak. Bahkan banyak rute hiking yang sama sekali tidak memiliki sumber mata air. Kalau sudah begitu mau menfilter air dari mana?

Oleh karena itu tadi saya menyebutnya “Subtitusi water filter”. Karena kehadiran water filter memang dapat disubtitusi penuh oleh water bladder.

Susah dibersihkan. Water Bladder itu susah dibersihkan karena bahannya lentur sehingga butuh perlakuan khusus. Kalau solid seperti botol konvensional sih tinggal di sikat asal saja.

Belum lagi saya harus membersihkan selang minumnya. Itu yang susah. Padahal selang minum adalah bagian yang mudah cepat kotor.

Dan lagipula, bila water bladder diisi dengan air minum selain air putih maka ia akan meninggalkan rasa dan bau yang bertahan lama meskipun sudah dicuci sekalipun. Misal diisi minuman isotonik. Oleh karena itu saya kapok mengisinya dengan air selain air putih.

Kesimpulan. Kesimpulannya gimana? Saya tetap puas kok memakai water bladder. Dan akan tetap saya pakai terus untuk aktivitas outdoor. Selama digunakan untuk hiking, trail runing, atau travelling santai sih enak-enak saja. 2 liter air on the go itu sangat menyenangkan sekali. Stay hydrated kawan-kawan!

Tinggalkan komentar