Sendirian di Batu Ratapan Angin

“Bila ingin melihat pemandangan landscape alam yang indah, maka lihatlah dari ketinggian.”

Aturan seperti itu nampaknya berlaku di mana saja. Ketika saya sedang berkunjung ke suatu tempat maka sebisa mungkin saya akan mencari tempat yang tinggi untuk mendapatkan pemandangan terbaiknya.

Tak terkecuali di Dieng. Negeri Para Dewa ini selalu mampu menyuguhkan pemandangan alam terbaiknya. Apalagi Dieng juga terletak di dataran tinggi. Kabut, awan, dingin, dan hujan seakan menjadi kesatuan komposisi yang selalu ngangenin.

Dieng memiliki banyak Telaga, salah satunya adalah Telaga Warna. Dinamakan Telaga Warna karena warna air di Telaga ini sering berubah-ubah. Terkadang berwarna hijau, kuning, atau warna-warni seperti pelangi.

Lalu di sebelah Telaga Warna ada Telaga Pengilon. Dalam bahasa Jawa, pengilon artinya berkaca. Hal ini karena warna air di Telaga ini sangat jernih sehingga dapat digunakan untuk berkaca.

Kedua Telaga yang saling bersebelahan ini tentu akan sangat indah bila dilihat dari ketinggian. Salah satu tempat di Dieng yang mampu menyajikan pemandangan seperti itu adalah Batu Ratapan Angin.

Dalam artikel sebelumnya di sini: Ke Dieng Sendirian, saya menceritakan perjalanan saya ke Dieng. Dan salah satu tujuan saya adalah pergi ke Batu Ratapan Angin.

Bila ke sini lebih enak saat hari biasa. Bukan saat akhir pekan apalagi saat Long Weekend. Karena saat hari libur maka Batu Ratapan Angin ini akan sangat ramai oleh wisatawan sehingga akan mengurangi kenikmatan dalam menikmati pemandangan.

Namun kalau bisanya memang saat liburan saja maka saya lebih baik ke sini saat pagi hari. Selain masih sepi wisatawan, pemandangan pagi hari tentu sangatlah sayang untuk dilewatkan.

Saya beruntung sekali ketika saya pergi ke sana kemarin tempatnya sangat sepi. Sangat berbeda sekali dengan kunjungan-kunjungan saya sebelumnya. Dulu ketika ke sini sangat ramai wisatawan. Orang-orang sibuk berselfie ria dan bersliweran ke sana ke sini sehingga suasana alamnya malah tidak dapat.

Mengenai fasilitas wisatanya sudah sangat lengkap. Akses jalannya pun juga sudah rapi dan memudahkan pejalan kaki. Sangat berbeda sekali dengan dulu di mana saat itu masih serasa seperti “mbabat alas”.

Spot favorit saya ketika berkunjung ke tempat ini adalah gundukan batu yang menghadap ke arah Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Spot ini biasanya selalu ramai orang untuk antri selfie. Dan kemarin, spot ini full untuk saya sendiri, haha.

Di spot ini saya duduk lumayan lama, menikmati pemandangan, dan sambil makan camilan. Sepertinya akan semakin nikmat bila membawa tremos air panas lalu menyeduh kopi di sini.

Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya.

Tinggalkan komentar