Sepeda dan Corona

Biasanya di Negara lain dalam satu tahun terbagi menjadi empat musim, yaitu: musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Namun Indonesia hanya memiliki dua musim saja karena dilalui garis equator. Yaitu musim kemarau dan musim hujan.

Kalau anda mengamati, musim kemarau di Indonesia selalu identik dengan sepeda dan layangan. Setidaknya di kalangan anak-anak.

Hasrat anak-anak untuk bermain di lapangan akhirnya baru terlaksana di musim kemarau setelah sekian lama mereka menahan diri di rumah karena cuaca yang kurang bersahabat.

Sejak bulan Februari 2020 kita dihimbau oleh pemerintah untuk #dirumahaja dengan tujuan menekan laju penularan wabah covid-19. Beberapa kota besar di Indonesia bahkan sempat memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Lalu pada bulan Juni 2020, kita mendapat sedikit kelonggaran untuk melakukan aktivitas di luar rumah. Meskipun mobilitasnya masih sangat terbatas.

Dan itu bertepatan dengan datangnya musim kemarau.

Untuk perjalanan ke luar kota diperketat. Ke luar negeri apalagi. Seorang teman saya bahkan bercerita kalau ia harus merogoh kocek setidaknya 20 juta hanya untuk melakukan karantina mandiri setibanya di Negeri Singapura.

Praktis hal ini membuat ruang gerak untuk rekreasi menjadi sangat terbatas. Tidak ada acara liburan ke luar kota apalagi ke luar negeri.

Padahal datangnya pandemi ini menuntut orang-orang untuk semakin hidup sehat. Satu semester terkukung di dalam rumah jelas berpengaruh bagi kesehatan mental. Dan kesehatan mental sangat berpengaruh bagi imunitas seseorang.

Lantas jalan alternatif yang dipilih orang-orang di saat seperti itu adalah: bersepeda.

Persis seperti anak-anak yang ruang geraknya sangat terbatas, namun tetap lincah dan bisa bersenang-senang sekadarnya.

Dengan bersepeda maka orang dewasa tetap bisa ke luar rumah (meskipun jangkauannya terbatas) dan melakukan refreshing. Dengan bersepeda maka mereka bisa mengarah ke pola hidup yang lebih sehat (setidaknya).

Mereka yang tadinya hobi berlibur ke Negara tetangga bahkan sampai ke Benua Eropa akhirnya membeli sepeda mahal lalu bersepeda keliling komplek.

Dan terakhir, kalau anda menyimak, setidaknya ada empat penyakit comorbid terhadap covid-19. Keempat penyakit tersebut adalah: gangguan pernafasan, sakit jantung, darah tinggi, dan diabetes. Keempat penyakit tersebut dapat dikoreksi atau dipreventif dengan olahraga. Salah satunya adalah olahraga kardio.

Rasanya saya tidak perlu menyimpulkan apakah variabel-variabel di atas tadi menjadi begitu masuk akal dengan boomingnya bersepeda di kala pandemi.

Tinggalkan komentar