serba rapid test

Serba Rapid Test

Satu semester telah berlalu. Belum ada tanda-tanda wabah corona akan beranjak pergi. Yang terjangkit justru bertambah banyak.

Satu-satunya hal yang dapat dilakukan oleh manusia untuk membatasi ruang gerak virus corona adalah dengan mengesahkan aturan lalu menerapkannya.

Meski tak semua aturan yang disahkan itu efektif.

Namanya juga manusia yang serba memiliki keterbatasan. Apalagi kalau diburu-buru dengan situasi pelik semacam ini.

Istri saya kemarin sakit. Ketika dibawa ke rumah sakit, ia diwajibkan mengikuti rapid test sebagai syarat untuk tindakan lanjut. Meski sakitnya tidak ada tanda-tanda gejala covid-19.

Untuk satu kali rapid test ongkosnya seratus lima puluh ribu rupiah.

Rapid test ini sesungguhnya hanya dapat digunakan untuk mengecek kadar antibodi di dalam darah. Bukan untuk mengecek ada tidaknya virus covid-19.

Yang sudah jelas apabila seseorang sedang sakit maka antibodinya akan aktif guna melawan virus atau bakteri yang masuk.

Antibodi yang dideteksi oleh rapid test ini adalah antibodi igG dan igM. Antibodi ini fungsinya universal. Dan digunakan untuk melawan berbagai virus dan bakteri lainnya termasuk virus covid-19.

Jadi bila seseorang sedang sakit infeksi tipus atau demam berdarah misalnya, maka hasil rapid testnya tentu akan menjadi reaktif.

Lantas apakah mungkin bila seseorang sedang sakit lalu hasil testnya menjadi non-reaktif? Bisa saja. Itu kalau antibodi orang tersebut belum terbentuk.

Artinya tidak ada yang pasti dari hasil rapid test. Test yang sudah pasti presisi dalam mendeteksi virus covid-19 adalah swab test (PCR).

Hasil rapid test istri saya pun reaktif. Itu sudah pasti. Namanya juga sedang sakit. Maka antibodinya aktif.

Karena hasilnya reaktif, dokter pun meminta supaya istri melakukan swab test sebagai syarat tindakan medis lebih lanjut. Yang biaya testnya mencapai 2 juta itu.

Bila ingin swab test gratis maka syaratnya harus terdaftar di BPJS kesehatan. Dan melakukan test sesuai dengan Puskesmas yang terdaftar di BPJS.

Kalau tidak memiliki BPJS kesehatan maka siap-siap merogoh kocek 2 juta. Atau memilih menahan sakit karena tak punya biaya.

Beruntungnya kami terdaftar di BPJS kesehatan.

Namun timbul masalah baru lagi. Puskesmas yang terdaftar di BPJS milik istri berada di kampung halaman. Kami harus bolak-balik empat kali ke sana.

Beruntungnya kami merantau tidak jauh-jauh dari kampung halaman.

Total swab test memakan waktu dua minggu hingga hasilnya benar-benar keluar.

Dan hasil swab test (PCR) istri saya pun sudah pasti. Negatif covid-19.

Hasil swab test (PCR) yang negatif inilah yang dibutuhkan sebagai syarat untuk tindakan medis lebih lanjut.

Kami bahkan sampai lupa istri sakit apa. Sudah terlalu disibukkan untuk mengurus rapid test dan swab test.

Yang sakit apanya, diagnosa penyakit yang hendak dicari apa, lalu yang mau diobati apa?

Setidaknya kami tetap bersyukur. Meskipun aturan serba rapid test itu pelik, toh pada akhirnya tetap manjur mengobati sakit istri saya.

Karena pikiran telah beralih memikirkan penyakit lainnya. (Adi Kuntjara)

Tinggalkan komentar