Trail Running Sendirian di Gunung Andong

“Trail running di Gunung sendirian? Seperti apa ya rasanya? Apakah saya cukup berani untuk melakukannya?”, pertanyaan semacam itu selalu terngiang-ngiang di kepala saya.

Saya belum pernah naik Gunung sendirian. Ngga berani. Nyali saya ngga sebesar itu. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, kalau Gunungnya tidak terlalu tinggi dan hanya tektokan saja, sepertinya rasa takut saya bisa dinegosiasi.

Dari berbagai pilihan yang ada, saya akhirnya memutuskan untuk tektokan di Gunung Andong. Alasannya karena Gunung Andong tidak terlalu tinggi dan medannya mudah. Selain itu saya pernah dua kali ke sana, jadi itung-itung lumayan untuk belajar mendaki sendirian. Pikir saya sih begitu.

Hari yang dinanti pun tiba. Hari Minggu. Saya berangkat dari Jogja naik motor sendirian. Sesampainya di sana, saya dibuat bimbang dengan pilihan rute yang tersedia. Gunung Andong ini memiliki 3 rute. Yang paling populer adalah rute via Basecamp Sawit. Lalu ada rute via Basecamp Pendem dan Gogik.

Kalau naik via Basecamp Sawit sepertinya ramai sekali. Meski saya cuman sendirian tapi saya nggak begitu menyukai keramaian. Akhirnya saya putuskan untuk naik via Basecamp Gogik lalu turunnya via Basecamp Sawit. Sepertinya lebih enak begitu.

Basecamp Gogik

Harga tiket mendaki di Basecamp Gogik ini adalah Rp 25.000. Sudah termasuk tarif parkir. Proses pendaftarannya pun mudah. Hanya disuruh mengisi absensi pendakian. Saya juga tidak dimintai surat keterangan sehat atau surat test covid-19.

Dibandingkan dengan rute lainnya, rute Gogik ini terhitung paling pendek dan paling sepi. Medan jalannya masih alami. Tangga naiknya pun dominan tanah alami. Berbeda dengan rute Sawit yang disusun dengan batu-batuan dan fasilitasnya lengkap.

Jadi ya benar saja, kalau naik lebih enak lewat rute Gogik (karena cepet dan masih alami), lalu kalau turun lebih enak lewat rute Sawit (karena ada barengan pendaki lainnya dan turunnya lebih aman).

Jalur paling ekstrim di Rute via Gogik

Keinginan saya untuk menghindari keramaian ternyata membuahkan hasil. Ketika saya naik via Gogik ternyata sepi sekali. Saya hanya berjumpa dengan 4 orang saja. Itupun mereka dalam perjalanan turun.

Selama pendakian, awan mendung dan kabut gelap sedang dalam perjalanan kemari. Suara gemuruh hujan juga mulai terdengar dari kejauhan. Saya sudah siap-siap mengenakan jas hujan. Khawatir kalau tiba-tiba kedinginan. Itu yang saya takutkan.

Dan benar saja, hujan turun dengan deras disertai kabut. Nyali saya sudah mulai ciut. Apakah mau lanjut atau memilih pulang. Tapi kalau putar balik, rute turunnya juga ngeri. Pun ga ada orang. Pun juga hampir sampai.

Akhirnya saya putuskan untuk lanjut saja. Berharap di Puncak ada temennya. Dan turun ada barengannya.

Puncak Alap-Alap yang sepi

Harapan saya untuk ketemu orang lain di Puncak Alap-Alap ternyata nihil. Tak ada orang sama sekali. Tak ada tenda satupun yang berdiri. Hanya ada sebuah warung yang sudah mau roboh. Saya kira tadi di dalam warung ada orangnya karena ada suara alat-alat yang saling beradu. Setelah saya hampiri ternyata suara itu berasal dari puing-puing warung yang tertiup angin Gunung. Bikin merinding saja.

Warung yang terbengkalai

Oke, saya mulai bimbang lagi. Dan nyali saya mulai ciut untuk yang kedua kalinya. Penyebabnya karena kabut semakin pekat dan hujan semakin deras. Saya takut turun melalui rute sebelumnya. Sedangkan kalau mau menuju ke Puncak yang satunya lagi (untuk turun via Sawit) maka saya harus melewati Jembatan Setan.

Jembatan Setan yang berkabut

Saya mulai paham kenapa dinamakan Jembatan Setan. Karena kalau hujan, kabut, dan sendirian jadi horor sekali. Asli dah. Jarak pandang kurang dari 10 meter saja. Kanan kiri jurang.

Namun syukurlah perjalanan melalui Jembatan Setan terbilang lancar. Saya pun sampai di Puncak Andong.

Sampai di Puncak Andong ternyata sama saja. Sepi sekali. Hanya ada satu tenda yang berdiri. Dan dua buah warung yang masih buka.

Puncak Andong yang sepi

Saya nyempetin untuk istirahat bentar sambil minum dan makan camilan. Karena tadi naiknya lumayan ngoyo maka saya nyeduh Pocari Sweat. Biar otot kakinya ngga lemes waktu turun.

Bekal camilan dan minuman

Setelah istirahat dirasa cukup saya lalu turun. Turunnya ngacir karena sepi (aslinya takut). Dan tanpa sadar ternyata waktu turun hanya ditempuh selama 12 menit saja. Entah itu cepet atau normal, tapi menurut saya kok itu ga masuk akal.

Sampai di basecamp Gogik pun tinggal motor saya saja yang ada di parkiran. Artinya saya pendaki terakhir. Well, kesepian ini cukup menempa mental saya.

Sekian cerita singkat mengenai trail running saya untuk pertama kalinya dan sendirian ini. Terima kasih kepada warga Dusun Gogik yang sudah memfasilitasi tempat basecamp yang aman dan nyaman. Semoga berjumpa di lain waktu.

Tinggalkan komentar